Sabtu, 21 Juli 2012

MONYET EKOR PANJANG



                          Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis Raflles)
           Di Desa Baru Pangkalan Jambu Kec.Pangkalan Jambu, Kab. Merangin


Taksonomi

Menurut Napier dan Napier (1967), sistematika monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles) berdasarkan taksonominya adalah sebagai berikut :
Phyllum             :    Chordata
Sub Phyllum      :    Vertebrata
Class                  :    Mamalia
Ordo                  :    Primata (Linnaeus, 1958)
Sub Ordo          :    Anthropoideae (Mivart, 1864)
Super Family     :    Cercopithecoideae (Simpson, 1931)
Family               :    Cercopithecidae
Sub Family        :    Cercopithecidae (Blanford, 1888)
Genus                :    Macaca (Lacepede, 1799)
Species              :    Macaca fascicularis (Raffles, 1821)
Sub Species       :    Macaca fascicularis fascicularis

Menurut Lekagul dan McNeely (1977), nama ilmiah lainnya dari monyet ekor panjang adalah Simia fascicularis Raffles (1812),Macaca irus Cuvier (1818), serta Simia cynomolgus Schrebeer (1775).  Monyet ekor panjang juga dikenal dengan nama monyet, kera, kunyuk atau ketek (Jawa/Sunda), serta crabeating macaquedan long-tailed macaque (Inggris).
Menurut Napier dan Napier (1967) membagi Macaca ke dalam 12 spesies dan 46 sub spesies. Lebih lanjut Napier dan Napier (1967) menjelaskan, Macaca fascicularis masih terbagi lagi menjadi 21 sub spesies, dan dari jumlah itu hanya 10 sub spesies yang berada di Indonesia dan daerah penyebarannya adalah sebagai berikut: (1)Macaca fascicularis terdapat di Sumatera, Riau, Lingga, Belitung, Kalimatan dan Karimata. (2) Macaca fascicularis lasiae terdapat di pulau Lasia. (3) Macaca fascicularis phaeura terdapat di pulau Nias. (4) Macaca fascicularis fusca terdapat di pulau Simular. (5)Macaca fascicularis mordox terdapat di pulau Jawa dan Bali. (6)Macaca fascicularis cupida terdapat di pulau Mastasiri. (7)Macaca fascicularis baweana terdapat di pulau Bawean. (8)Macaca fascicularis tua terdapat di pulau Maratua. (9) Macaca fascicularis limitis terdapat di pulau Timor dan (10) Macaca fascicularis sublimitis terdapat di pulau Lombok, Sumbawa kemudian Flores dan pulau Kambing.

Morfologi dan Anatomi

Monyet ekor panjang tergolong monyet kecil yang berwarna coklat dengan bagian perut berwarna lebih muda dan disertai rambut keputih-putihan yang jelas pada bagian muka.  Dalam perkembangannya, rambut yang tumbuh pada muka tersebut berbeda-beda antara satu individu dengan individu yang lainnya.  Perbedaan warna ini dapat menjadi indikator yang dapat membantu mengenali individu berdasarkan jenis kelamin dan kelas umurnya (Aldrich-Black, 1976 dalam Chivers, 1980).
Bayi monyet ekor panjang yang baru lahir memiliki bulu yang berwarna hitam dengan muka dan telinga berwarna merah muda.  Dalam waktu satu minggu, warna bulu pada kulit muka akan memudar dan berubah menjadi abu-abu kemerah-merahan.  Setelah kira-kira berumur enam minggu, warna bulu yang hitam pada saat lahir berubah menjadi coklat. Setelah dewasa, bulu kulit berwarna coklat kekuningan, abu-abu atau coklat hitam, tetapi bagian bawah perut dan kaki sebelah dalam selalu lebih cerah.  Rambut di atas kepalanya tumbuh kejur (semacam kuncir) ke belakang, kadang-kadang membentuk jambul.  Rambut di pipi menjurai ke muka, di bawah mata selalu terdapat kulit yang tidak berbulu dan berbentuk segi tiga, kulit pada pantat juga tidak berbulu (Carter, 1978).
Menurut Lekagul dan McNeely (1977), warna rambut yang menutupi tubuh monyet ekor panjang bervariasi tergantung pada umur, musim dan lokasi.  Monyet ekor panjang yang menghuni kawasan hutan umumnya berwarna lebih gelap dan lebih mengkilap, sedangkan yang menghuni kawasan pantai umumnya berwarna lebih terang.
Panjang kepala dan badan berkisar antara 350-455 mm, panjang ekor berkisar antara 400-565 mm, ukuran telapak kaki belakang berkisar antara 120-140 mm, tengkorak 120 mm, dan telinga berkisar antara 34-38 mm (Medway, 1978). Bobot badan dewasa monyet jantan 5,4 – 10,9 kg dan betina antara 4,3 – 10,6 kg (Sajuthi, 1983).
Penentuan umur monyet selain memperhatikan dewasa kelamin dapat juga melihat pertumbuhan giginya. Monyet ekor panjang mempunyai susunan giginya sebagai berikut  :  


Keterangan :
I (Incisivus)         :    gigi seri
P (Premolare)       :    gigi geraham depan
C (Canine)           :    gigi taring
M (Molar)            :    gigi geraham belakang
Ekor monyet ekor panjang berbentuk silindris dan muskular, serta ditutupi oleh rambut-rambut pendek.  Umumnya panjang ekor tersebut berkisar antara 80-110% dari panjang kepala dan badan.  Rambut pada mahkota kepala tersapu ke belakang dari arah dahi.  Monyet ekor panjang muda seringkali mempunyai jambul yang tinggi, sedangkan monyet ekor panjang yang lebih tua mempunyai cambang yang lebat mengelilingi muka.  Ciri anatomi penting dari monyet ekor panjang adalah adanya kantong pipi (cheek pouch) yang berguna untuk menyimpan makanan sementara.  Dengan adanya kantong pipi ini maka monyet ekor panjang dapat memasukkan makanan ke dalam mulut secara cepat dan mengunyahnya di tempat lain (Lekagul dan McNeely, 1977).

Reproduksi

Menurut Van Lavieren (1983), monyet ekor panjang mencapai kedewasaan atau umur minimum dapat melakukan perkawinan berkisar antara 3,5-5 tahun.  Sedangkan menurut Napier dan Napier (1967), kematangan seksual pada monyet ekor panjang jantan adalah 4,2 tahun dan betina 4,3 tahun.  Siklus menstruasi berkisar selama 28 hari dan lama birahi sekitar 11 hari.
Selang waktu pembiakan (breeding interval) terjadi antara 24-28 bulan, masa kehamilan berkisar antara 160-186 hari dengan rata-rata 167 hari.  Jumlah anak yang dapat dilahirkan satu ekor dan jarang sekali dua ekor dengan berat bayi yang dilahirkan berkisar antara 230-470 gram. Anak monyet ekor panjang disapih pada umur 5-6 bulan. Masa mengasuh anak berlangsung selama 14-18 bulan. Perkawinan dapat terjadi sewaktu-waktu dan ovulasi berlangsung spontan dengan rata-rata pada hari ke-12 sampai ke-13 pada siklus birahi (Napier dan Napier, 1967).  Panjang usia monyet ekor panjang sekitar 25 – 30 tahun (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
Hampir seluruh jenis monyet yang termasuk kedalam famili Cercopithecideae memiliki sistem perkawinan poligami, yakni memiliki beberapa ekor betina dewasa dalam setiap kelompoknya.  Perbandingan antara jantan dan betina monyet ekor panjang di Kalimantan adalah 1:1,8 sedangkan di Taman Wisata dan Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat adalah 1:1,2 (Kurland, 1973; Mukhtar, 1982).

Habitat dan Penyebaran

Habitat adalah suatu tempat dimana organisme atau individu biasa ditemukan. Suatu habitat merupakan hasil interaksi dari beberapa komponen yaitu komponen fisik yang terdiri dari air, tanah topografi dan iklim (mikro dan makro) serta komponen biologis yang terdiri dari manusia, vegetasi dan satwa (Smiet, 198).   Habitat yang sesuai menyediakan semua kelengkapan habitat bagi suatu spesies selama musim tertentu atau sepanjang tahun.  Kelengkapan habitat terdiri dari berbagai macam jenis termasuk makanan, perlindungan, dan faktor-faktor lainnya yang diperlukan oleh spesies hidupan liar untuk bertahan hidup dan melangsungkan reproduksinya secara berhasil (Bailey, 1984). 
Habitat monyet ekor panjang tersebar mulai dari hutan hujan tropika, hutan musim, hutan rawa mangrove sampai hutan montane seperti di Himalaya.  Disamping itu juga terdapat di hutan iklim sedang di Cina dan Jepang serta padang rumput dan daerah kering yang bersemak dan berkaktus di India dan Ceylon (Napier dan Napier, 1967).  Menurut Crockett dan Wilson (1977) dalam Lindburg (1980), monyet ekor panjang banyak dijumpai di habitat-habitat yang terganggu, khususnya daerah riparian (tepi sungai, tepi danau, atau sepanjang pantai) dan hutan sekunder dekat dengan areal perladangan.  Selain itu juga terdapat di rawa mangrove yang kadang-kadang monyet ini hanya satu-satunya spesies dari anggota primata yang menempati daerah tersebut.  Di daerah pantai kadang-kadang monyet ekor panjang terdapat secara bersama dengan spesies lain seperti lutung (Presbytis cristata).
Menurut Crockett dan Wilson (1977) dalam Lindburg (1980), kondisi habitat berpengaruh terhadap kerapatan populasi monyet ekor panjang. Kepadatan populasi di hutan sekunder umumnya lebih tinggi daripada hutan primer.  Ukuran kelompok juga bervariasi menurut kondisi habitatnya.  Di hutan primer satu kelompok monyet ekor panjang beranggotakan 10 ekor, di hutan mangrove 15 ekor dan di areal yang terganggu dapat lebih dari 40 ekor.
Primata disamping dapat hidup di habitat aslinya juga dapat hidup di habitat lain. Menurut Napier (1970) monyet (Macaca)  adalah salah satu contoh genus yang dapat beradaptasi dengan keadaan lingkungan dan iklim yang berbeda.
Penyebaran monyet ekor panjang (M. fascicularis Raffles) meliputi Indocina, Thailand, Burma, Malaysia, Philipina dan Indonesia.  Di Indonesia, M. fascicularis Raffles terdapat di Sumatera, Jawa dan Bali, Kalimantan, Kepulauan Lingga dan Riau, Bangka, Belitung, Banyak, Kepulauan Tambelan, Kepulauan Natuna, Simalur, Nias, Matasari, Bawean, Maratua, Timor, Lombok, Sumba dan Sumbawa (Lekagul dan McNeely, 1977).

Pakan

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles) merupakan salah satu jenis satwa pemakan buah (frugivorous).  Penggolongan ini didasarkan pada banyaknya bagian tumbuhan yang dimakan oleh monyet ekor panjang tersebut.  Namun demikian, hasil penelitian Sugiharto (1992) menunjukkan bahwa komposisi bagian vegetasi yang dimakan oleh monyet ekor panjang terdiri atas : bagian daun sebanyak 49,93%, buah 38,54%, bunga 6,60% dan lain-lain sebanyak 5,94%.
 M. fascicularis Raffles mempunyai kebiasaan makan yang sangat selektif.  Mereka memakan buah dan daun-daun muda dari jenisFicusDilleniaDiospyrosKoordersiodendronDracontomelon,Bambusa sp. dan beranekaragam jenis lainnya (Kurland, 1973).  Jenis-jenis tumbuhan lain yang diketahui sebagai sumber pakan bagiM. fascicularis Raffles tergolong cukup banyak.  Jenis-jenis vegetasi yang dimakan oleh monyet ekor panjang seperti disajikan pada Tabel 2.
Selain sebagai satwa frugivorous, monyet ekor panjang juga mempunyai alternatif sumber pakan lain.  Jenis-jenis yang dapat dimakan oleh monyet ekor panjang antara lain : serangga, rumput, jamur, mollusca, crustaceae, akar, umbi, dan telur burung (Lindburg, 1980).  Ficus spp. merupakan jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan paling penting bagi monyet ekor panjan.  Hal ini karena Ficusspp. dapat menghasilkan dedaunan muda sepanjang tahun dan berbuah 2-3 kali setiap tahunnya (Chivers, 1978).



Oleh: M. Misbah Satria Giri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar